Anak Bunda Suka Jajan? Berikut yang Perlu Bunda Perhatikan untuk Jajanannya

Pada  umumnya  kebiasaan  yang  sering  menjadi  masalah  adalah kebiasaan makan di kantin atau warung di sekitar sekolah dan kebiasaan makan fast food. Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut FAO didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Jajanan kaki lima dapat mejawab tantangan masyarakat terhadap makanan yang murah, mudah,  menarik  dan  bervariasi.  Anak-anak  sekolah  umumnya  setiap  hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah. 

Makanan jajanan sebenarnya sangat rentan terkontaminasi oleh unsur fisik, kimia dan biologis. Kontaminasi tersebut dapat berasal dari pekerja, peralatan,  proses  pembersihan,  konsumen  dan  bahan  pangan  itu  sendiri. 

Secara umum, bahaya dalam bahan pangan terdiri dari tiga, yaitu bahaya fisik, kimia, dan biologis. Bahaya fisik yang biasa ditemui dalam makanan dapat berupa potongan rambut, plastik, batu, ranting kayu, straples, pecahan kaca, karet, dan lain-lain. Benda-benda asing tersebut  dapat  menyebabkan  gigi patah, tercekik, melukai kerongkongan bahkan saluran pencernaan. Selain itu benda asing tersebut juga bisa membawa mikroba yang jika secara tidak langsung dikonsumsi anak-anak dapat menggaggu kesehatan mereka, misalnya anak terkena diare. 

Bahaya kimia yang ditemukan dalam pangan jajanan dapat berupa bahan tambahan pangan yang berbahaya yang sudah dilarang oleh pemerintah. Penambahan bahan tambahan pangan (BTP) yang berlebihan atau yang telah dilarang penggunaannya tentu saja akan membawa dampak negatif bagi tubuh. BTP yang sering digunakan produsen-produsen “nakal” antara lain : formalin  dan  boraks  pada  mie,  tahu  dan  bakso;  pewarna  tekstil  seperti rhodamin B (pewarna merah), dan methanil yellow (pewarna kuning); dan pemanis  buatan  yang  kadang-kadang  memberikan  after  taste  pahit  sete. 

Biasanya dampak bahaya kimia ke tubuh tidak dirasakan secara langsung. Namun dalam jangka panjang hal ini dapat menjadi salah satu penyebab pemacu kanker. Misalnya, penggunaan bahan pewarna yang mencolok  pada  bahan  pangan  acap  kali  menarik perhatian  anak  untuk membelinya, padahal tanpa sepengetahuan mereka warna yang mencolok tersebut membuat jajanan mereka tidak sehat. Penggunaan MSG berlebihan pada produk jajanan mereka berupa snack atau makanan lainnya lama kelamaan dapat mengganggu sistem syaraf. Bungkus gorengan yang biasanya menggunakan koran bekas atau kertas bekas dapat mengakibatkan migrasi komponen kemasan seperti karbon ke bahan pangan yang dikemas. 

Selain itu penggunaan plastik PVC (Poly Vynil Chlorida) untuk makanan seperti bakso yang dibungkus dalam keadaan panas ke dalam plastik dapat menyebabkan migrasi monomer vinil klorida yang lama kelamaan dapat menumpuk dalam jaringan tubuh dan memacu timbulnya kanker. Penggunaan minyak yang telah berulang-ulang tanpa penggantian juga dapat menyumbangkan asam lemak jenuh, kolesterol dan asam lemak trans yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. 

Menurut Hiroshi Osawa, seorang profesor dari Universitas Iwate, Jepang, sejak tahun 1984  telah meneliti perilaku kekerasan remaja Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan kekerasan tersebut diakibatkan oleh konsumsi minuman ringan dalam kaleng atau botol dan makanan junkfood yang terlalu  banyak. Selain itu, hasil penelitian juga memperlihatkan hubungan antara perilaku pemarah dan menurunnya konsentrasi dengan ketidakseimbangan metabolisme glukosa pada otak. Ketidakseimbangan ini erat kaitannya dengan konsumsi gula dan karbohidrat olahan berlebihan. 

Bagi anak yang sensitif, pengawet dan pewarna dapat mencetuskan gejala alergi baik pada tubuh dan otaknya, di samping itu juga menimbulkan gejala diare. Alergi pada zat-zat aditif atau zat-zat tertentu pada makanan, dapat mempengaruhi suasana hati, perilaku dan proses berpikir. Bahkan dalam jangka panjang akan mempertinggi risiko kanker. Zat-zat dalam makanan lain (secara tidak langsung) yang dapat mengganggu aktivitas massa penghantar saraf otak (neurotransmitter) di otak, di antaranya: aroma sintetis, mono sodium glutamat (MSG), atau salisilat sintetis. 

Asupan MSG dalam jumlah banyak yang terus menerus dalam jangka pendek akan membuat anak jadi haus, pusing, dan mual. Pengaruh tersebut dapat melalui beberapa cara berikut, yaitu: 
  • Mempengaruhi  aktivitas otak atau mengacaukan pembentukan serta pengeluaran neurotransmitter yang memodifikasi suasana hati. 
  • Mengganggu atau menghambat aliran neurotransmitter sehingga saraf penerima pesan tidak dapat memahami sinyal listrik yang dikirim. 
  • Mempengaruhi enzim-enzim yang mengatur aktivitas neurotransmitter. 

Gejala atau efek yang ditimbulkan oleh zat-zat pembuat alergi tersebut bisa bervariasi, misalnya kurang gairah belajar, kurang konsentrasi, meningkatnya kenakalan, mudah mengantuk, cemas, dan daya ingat berkurang. Karena efeknya samar dan tidak begitu nyata, orangtua sering mengabaikan. Kalau anak malas belajar, dianggap karena terlalu sering nonton televisi atau main video game. 

Contoh bahan tambahan makanan berbahaya dan akibatnya : 
  1. Pemanis buatan yang biasa dipakai pedagang dalam es mambo atau es sirup misalnya: Sakarin : menyebabkan kanker kantung kemih dan bersifat karsinogenik pada binatang. Siklamat : Berpotensi menyebabkan pengecilan testicular dan kerusakan kromosom. 
  2. Pewarna merah yang seharusnya untuk tekstil tapi oleh pedagang digunakan untuk mewarnai limun, sirup, permen, bahkan terasi: Rhodamine B : ketika diujikan pada mencit dan tikus menimbulkan efek pertumbuhan badan yang lambat, muncul sifat gelisah dan kemungkinan  memicu kanker. 
  3. Bahan pengenyal yang sering digunakan pada bakso Boraks : bersifat akumulatif terhadap kesehatan (terkumpul sedikit demi sedikit dalam otak, hati, dan testis (alat reproduksi pria). Kalau dosisnya sudah tinggi bisa timbul gejala pusing-pusing, muntah, mencret, kram perut, bahkan kematian.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Anak Bunda Suka Jajan? Berikut yang Perlu Bunda Perhatikan untuk Jajanannya"

Posting Komentar

CONTACT US

×