Pendekatan Psikologis Kepada Anak Korban Perceraian

Anak-anak yang mengalami perceraian menghadapi berbagai tugas-tugas psikologis yang berkaitan dengan perceraian orang tuanya sebagai tugas tambahan untuk  memenuhi tugas perkembangannya yang normal selama masa kanak-kanak. Tugas-tugas psikologis ini harus dihadapi anak-anak sejak hari terakhir orang tua mereka terikat dalam perkawinan, selama masa perceraian dan sesudah perceraian terjadi.

Memahami perceraian dan konsekuensinya
Anak-anak yang merasa terancam dengan hilangnya orang tua yang pergi dan marah pada orang tua yang tinggal di rumah selalu merasa takut dan terus menerus memiliki fantasi bahwa mereka dibuang dan tidak akan melihat orang tua mereka lagi. Anak-anak yang lebih muda dimana perkembangan kognitifnya masih sulit membedakan antara fantasi dan kenyataan akan lebih sulit beradaptasi terhadap kenyataan terjadinya perceraian diripada anak-anak yang sudah mampu berpikir dan menggunakan logika. 

Begitu anak-anak tumbuh dan berkembang, mereka menyadari bahwa tidak ada alasan mendasar untuk terus menerus merasa cemas, dan mereka mulai bisa memikirkan dan menerima bahwa perceraian memang akan berpengaruh terhadap kehidupan mereka. Saat anak-anak beranjak dewasa mereka  mulai bisa memahami alasan mengapa orang tuanya harus bercerai dan dapat secara perlahan-lahan memperbaiki hubungan dengan orang tua yang tidak mengasuh mereka. Anak-anak membutuhkan ketulusan yang terus menerus dan dukungan sebagai usaha untuk memahami perceraian dan konsekuensinya terhadap keluarga.

Melepaskan diri dari krisis dan melanjutkan aktivitas sehari-hari secara normal
Agar berhasil mengatasi tugas psikologis melepaskan diri dari krisis, anak-anak harus menyampaikan apa yang mengganggu mereka (kesedihan, ketakutan, dll mengenai perceraian) kepada orang tua dan saudara-saudara kandung mereka, dan pada saat yang bersamaan harus berjuang memenuhi tugas perkembangan yang harus dipenuhi sesuai tahapan perkembangannya. 

Anak-anak yang lebih muda yang mengalami kecemasan terhadap perceraian seringkali menunjukkan penurunan dalam prestasi akademik, dan anak-anak yang lebih tua biasanya tenggelam dalam banyak kegiatan di luar rumah karena biasanya tanggung jawab ekstra akibat terjadinya perceraian seringkali dibebankan pada mereka. Untuk kesehatan perkembangannya, anak-anak yang lebih muda kebutuhannya harus didahulukan dan menjadi prioritas daripada yang lainnya. Orang tua bisa membantu mereka mencapai tugas ini dengan mendorong anak-anak untuk tetap menjadi anak-anak.

Mengatasi rasa kehilangan
Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, anak-anak yang mengalami perceraian menderita kehilangan rasa aman dan perlindungan karena kehilangan salah satu orang tuanya. Cara mereka bereaksi terhadap kehilangan ini, biasanya dengan menyalahkan diri sendiri dan kehilangan rasa harga dirinya. Sebagai hasilnya, anak akan terus berusaha agar perceraian tidak pernah terjadi, berusaha mendapatkan kembali harga dirinya. Pikiran dan perasaan kegagalan ini akan berkurang saat anak-anak mampu membangun hubungan yang baik dengan orang tua yang tidak mengasuh mereka di rumah.

Mengatasi rasa marah
Walaupun orang tua menganggap perceraian sebagai cara yang tepat untuk melepaskan diri dari tidak terpenuhinya harapan mereka dan seringkali dari hubungan yang tidak bahagia, anak-anak justru memaknainya sebagai krisis yang secara serius mengancam stabilitas mereka. Sebagai konsekuensinya, anak marah terhadap orang tuanya karena menganggap orang tua egois dan tidak menyayangi mereka. Anak-anak menyayangi orang tua mereka dan ingin melindunginya, namun pada saat yang sama anak-anak melihat orang tua sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap ketidak bahagiaan mereka. 

Tugas utama untuk anak-anak ini adalah bekerja keras mengatasi rasa marah, dan menyadari bahwa orang tua adalah manusia biasa dan bisa berbuat salah. Tugas untuk memaafkan sangat penting untuk menyembuhkan; memaafkan diri mereka sendiri karena merasa marah dan merasa bersalah, dan karena tidak mampu mencegah terjadinya perceraian; dan memaafkan orang tua karena mereka memutuskan untuk bercerai.

Mengatasi rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri
Ketika orang tua bercerai, anak merasa bahwa merka bertanggung jawab terhadap terjadinya perceraian itu. Tergantung pada usia mereka, anak-anak merasa takut bahwa harapan yang diam-diam mereka miliki terkabul, yaitu berhasil menyingkirkan salah satu orang tua agar mereka lebih dekat dengan orang tua yang lain. Perasaan bersalah yang menakutkan ini juga akan mereka rasakan saat mereka meninggal, khususnya jika anak mengalami apa yang disebut Freud sebagai periode oedipal. 

Pada tahap ini (4-5 tahun), seorang anak merasa cemburu kepada orang tua yang memiliki jenis kelamin yang sama dengan mereka dan memiliki keinginan untuk “menikahi” orang tua yang berbeda jenis kelaminnya dengan mereka. Ketika pereraian terjadi di usia ini, anak menjadi sangat ketakutan dan merasa bersalah bahwa merekalah yang menyebabkan perceraian terjadi.

Wallerstein dan Blakeslee (1989) menekankan pada sebuah situasi dimana terjadi kelahiran sebelum perceraian terjadi, dan anak-anak surmise dengan yakin bahwa mereka benar-benar menjadi penyebab terjadinya perceraian. Anak-anak yang lain berpikir bahwa mereka membuat orang tua yang satu melawan orang tua lainnya dan tingkah laku mereka itu membuat jarak diantara orang tua mereka, selain itu anak-anak juga menyalahkan salah satu orang tua atau orang tua lainnya karena menyebabkan mereka kehilangan interaksi dengan orang tua  lainnya. Tampak sekali disini bahwa rasa bersalah dan menyalahkan adalah sesuatu yang sangat biasa dalam konflik perceraian.  Penulis menyarankan agar anak diajarkan keterampilan untuk melepaskan diri dari rasa bersalah yang mengikatnya, dan segera melanjutkan hidupnya secara normal.

Menerima kenyataan bahwa perceraian sudah terjadi
Anak-anak yang hidup dalam perceraian orang tuanya, mereka harus menghadapi kesedihan yang sama dengan keluarga yang mengalami kematian. Reaksi pertama dalam menghadapi kesedihan ini biasanya adalah penolakan, anak-anak biasanya menjalani perceraian orang tuanya dengan cara menolak bahwa perceraian itu terjadi. Wallerstein dan Blakeslee mencatat bahwa bahkan setelah 5 atau 10 tahun, anak tetap belum bisa menerima perceraian sebagai sesuatu yang masuk akal. Mereka terus berharap secara sadar maupun tidak, bahwa perkawinan orang tuanya akan kembali seperti semula, dan mereka memaknai setiap gerak tubuh positif  kedua orang tuanya jika bertemu, merupakan tanda-tanda akan terjadinya rekonsiliasi.

Sesungguhnya hal ini adalah keinginan yang sangat tidak mungkin untuk terus dipelihara. Beberapa orang dewasa yang orang tuanya telah bercerai dan bahkan telah menikah lagi, jauh dilubuk hatinya masih memiliki harapan terpendam agar keluarganya bisa kembali bersama lagi. Mereka lelah terus menerus berlibur secara terpisah dan hanya menghabiskan waktu yang terbatas dengan salah satu orang tua. Dan jika mereka membicarakan tentang keluarga, tanpa terasa air mata mengalir dengan sendirinya. Kalau saja ayah dan ibu tidak melakukan hal itu, tentu semuanya tidak akan menjadi seperti ini, begitu terus mereka katakan. Walaupun tidak banyak, namun ada beberapa anak yang diam-diam berdo’a dan berharap akan ada keuntungan yang mereka dapatkan dari perceraian orang tuanya.

Terkadang, sebagai reaksi akan perasaan ditolak yang sangat besar, anak-anak terus menerus berusaha dan akan mengulanginya lagi bila ada kesempatan untuk membawa orang tuanya kembali ke rumah, dan dampaknya adalah mereka akan mencoba membangun kembali harga diri mereka yang telah rusak. Anak-anak dengan orang tua yang bercerai lebih sulit menerima kenyataan dibandingkan dengan anak-anak yang mengalami orang tua yang meninggal. Kematian tidak bisa mengembalikan orang tua, namun perceraian bisa. Selain itu, anak juga terus membangun harapan bahwa orang tuanya akan kembali bersama lagi, dan mereka ingin orang tuanya bahagia bersama. Inilah tugas psikologis yang sangat berat untuk dihadapi, dan banyak anak tidak pernah bisa menerima perceraian orang tuanya bahkan hingga mereka dewasa.

Membangun Harapan yang realistis mengenai suatu hubungan
Tugas terakhir ini adalah tugas yang terpenting, dan hal ini tergantung pada pemenuhan tugas-tugas sebelumnya. Untuk mencapai harapan yang realistis, anak-anak yang lebih tua harus dimampukan untuk mengesampingkan contoh kegagalan perkawinan orang tuanya dan membuangnya jauh-jauh, serta mulai mencari contoh-contoh atau model perkawinan orang lain yang lebih baik, yang menekankan pada cinta dan komitmen. Karena anak-anak mengalami kecemasan, tertekan secara mental, dan dikhianati ketika perkawinan orang tuanya terpecah, dapat dipahami jika mereka selalu mengalami keraguan dan hambatan dalam membangun sebuah hubungan, karena mereka takut gagal. Sebaliknya, anak yang mampu dan berhasil memahami bahwa selalu ada resiko gagal dalam membangun sebuah hubungan, dan menyadari bahwa mereka pantas untuk dicintai dan mencintai, anak mencapai “kebebasan psikologis” dari dampak buruk perceraian orang tuanya. Hasil dari terpenuhinya tugas ini adalah kesadaran mendasar bahwa “selalu ada kesempatan kedua bagi anak-anak korban perceraian.”

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Gately dan Schwebel (1992) menyimpulkan bahwa anak akan terhindar dari dampak negatif jangka panjang perceraian, jika krisis tersebut tidak ditambah dengan berbagai sumber stress yang lain dan terus diperparah. Diantara hasil positif yang bisa diraih adalah meningkatkan kematangan/kedewasaan, rasa harga diri dan empati terhadap orang lain. 

Keluarga dengan orang tua tunggal dapat mendorong terjadinya kematangan dengan cara melibatkan anak-anak dalam pembuatan keputusan yang tepat dan dengan memberi mereka tanggung jawab terhadap beberapa hal secara proporsional. Selain semakin matang, anak-anak yang rasa harga diri dan empatinya semakin meningkat menunjukkan bahwa mereka berhasil beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi akibat perceraian. Meningkatnya harga diri anak akan lebih mudah dicapai jika mereka diberi tanggung jawab dan tugas-tugas yang memungkinkan untuk mereka laksanakan dengan baik. 

Jika anak-anak yang lebih dewasa didorong untuk memberikan dukungan emosional dan praktis sesuai dengan usianya kepada anggota keluarga yang lain, maka mereka akan mampu untuk menumbuhkan empati dan memahami perasaan orang lain. Hal ini akan tampak pada meningkatnya kehangatan dan pengertian mereka terhadap kedua orang tua. Anak-anak akan meningkat kematangan, harga diri dan empatinya jika seluruh anggota keluarga memandang perceraian dari sudut pandang yang positif.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendekatan Psikologis Kepada Anak Korban Perceraian "

Posting Komentar

CONTACT US

×