Tingkat Perceraian yang Tinggi di Wonogiri, Apa Penyebabnya?

Menurut  penuturan  Haryadi  faktor-faktor  yang  menyebabkan  tingginya  angka perceraian di Wonogiri antara lain:

Ada kemudahan dalam proses pengajuan cerai di pengadilan, terlebih lagi pengadilan agama memberikan layanan sidang di daerah atau dikenal dengan istilah sidang keliling, sehingga memudahkan masyarakat di daerah untuk mengajukan gugatnya ke pengadilan dalam perkara perceraian. 

Faktor yang mempengaruh angka perceraian lebih dari 1.500 per tahun pasangan perceraian, alasan terbesar pernikahan dibawah umur yang menikah pada usia kurang dari 16 tahun, pasangan pernikahan ini labil dalam menjalani kehidupan ekonomi, menjalar kepada masalah ekonomi keluarga, orang cenderung ke arah konsumtif, produktifitas untuk konsumtif bertambah, pola berpikirnya labil, apalagi masalah pemahaman dan pengamalan agama cenderung sangat rendah sekali. Sehingga mempengaruhi pola pemikirannya dalam membangun keluarga. 

Berdasarkan quisioner yang diedarkan oleh KUA  kepada masyarakat, hampir paling yang sudah aktif menjalankan ibadah shalat baru berkisar angka 20-25 % yang menjalankan shalat lima waktu dalam kehidupan sehari-hari. 

Rendah tanggung jawabnya keluarga, motivasi yang paling kuat dalam keluarga adalah merasa diuji oleh Allah, motivasi kepada Allah Swt, di sana ada pahala, kalau tidak ada mentalitas agama kalau seneng dipakai, kalau tidak senang yang sudah ditinggalkan. Karena selama ini apa yang ditonton adalah sinetron yang menayangkan gaya hidup yang gonta-ganti pasangan dan perceraian yang ada  (Wawancara dengan Drs Purwanto, 24 September 2013). 

Di  Jatipurno  Usia  perkawinan  sangat  mempengaruhi  faktor  tingginya  angka perceraian, kurang ideal untuk melangsungkan perkawinan karena usianya masih rendah, pendidikan rendah, kualitas rendah, karena pendidikan rendah, pernikahan dini, usia belum mencukupi kematangan biologis dan kematangan mental dalam membangun rumah tangga, mentalitasnya rendah, sehingga sangat rentan terhadap terjadinya perceraian. 

Pada tahun 2010 jumlah dispensasi yg dikeluarkan Pengadilan Agama Wonogiri mencapai 52 surat. Tahun berikutnya 2011 naik menjadi 76 surat dan tahun 2012 sebanyak 72 surat. Untuk triwulan 2013 saja Pengadilan Agama Wonogiri telah mengeluarkan 25 surat. Bisanya dua bulan setelah tahun baru dan lebaran pemohon dispensasi meningkat. 

Surat dispensasi merupakan potret anomali anak-anak remaja sekarang. Seperti gunung es, gejala yang biasa disebut maried by accident (MBA). Pernikahan di bawah umur kerap terjadi yang berujung perceraian. 

Di Pengadilan Agama Wonogiri angka perceraian 2012 lalu mencapai 1.510 kasus, dimana cerai gugat (cerai yg diajukan pihak istri) mencapai 1.062 kasus ( Solopos, 29 Juli 2013, hlm. 1-2). Rata-rata para istri mengaku ditelantarkan suami. 

Perbandingan dengan di Kota Surakarta berdasarkan data Pengadilan Agama Surakarta “Pemicu perceraian berdasarkan data tahun 2009 disebabkan oleh faktor-faktor: suami tidak bertanggung jawab sebanyak 209 kasus, tidak adanya keharmonisan 84 kasus, ganguan pihak ketiga 60 kasus, krisis akhlak sebanyak 46 kasus, krisis ekonomi sebanyak 46 kasus dan lainlain penyebab perceraian sebanyak 183 kasus” (Solopos, 3/1/2011 hlm. 5). 

Pengadilan Agama Surakarta mencatat hingga Agustus 2011 jumlah kasus perceraian yang disebabkan suami menelantarkan anak dan istrinya mencapai 190 kasus. Perkawinan yang rentan perceraian ialah bagi pasangan nikah usia 30-40 tahun. prahara keluarga rata-rata diajukan oleh istri kepada suaminya alias kasus cerai gugat. Kasus perceraian karena faktor ketidakharmonisan keluarga mencapai 117 kasus. Kasus pemicu perceraian lainnya, yakni adanya faktor orang ketiga yang mencapai 52 kasus (Koran O, 13/9/2011 hlm. 4). 

Pengaruh  lingkungan  juga  sangat  mempengaruhi  terhadap  pertumbuhan  dan perkembangan rumah tangga. Seperti banyaknya tontonan, internet, lingkungan permisif, tidak adanya kontrol dari masyarakat, orang tua tidak melarang ketika generasi muda masuk dalam pergaulan bebas. 

Kalau perkawinan terjadi karena kecelakaan, tidak adanya rasa tanggung jawab terhadap keluarga, pergaulan bebas, lingkungan permisif, orang tua tidak memberikan teguran ketika anak muda melakukan pergaulan bebas, sehingga menikah yang dipaksakan akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan rumah tangga, karena pernikahan yang dipaksakan, maka akan rentan terhadap terjadinya perceraian, hubungan keluarga tidak akur, hubungan dengan mertua tidak akur, orang tua campur tangan dalam urusan rumah tangga anaknya. 

Alasan semuanya bermuara pada masalah ekonomi akhirnya, karena tidak mungkin mengirit, belum punya bekerja saja sudah ada pengeluaran terus menerus. Apalagi tidak ada pekerjaan tetap. Hal ini akan menjadi beban keluarga. 

Pengaruh lingkungan terhadap keutuhan lembaga perkawinan. Sedangkan alasan perceraian yang terjadi antara lain: berdasarkan Dafar Cerai Gugat KUA Selogiri Tahun 2013 dari bulan Januari hingga September 2013 jumlah cerai gugat di KUA Selogiri sebanyak 19 kasus (Buku Pendafaran Cerai Gugat KUA Selogiri Tahun 2013). 

Adapun alasan perceraiannya sebagai berikut: Tidak tanggung jawab, Tidak memberi nafah, Perselingkuhan, Perselisihan dan pertengkaran, Tinggal wajib, Belum dikarunia anak, Perselisihan dan pertengakaran, Meninggalkan kewajiban.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tingkat Perceraian yang Tinggi di Wonogiri, Apa Penyebabnya?"

Posting Komentar

CONTACT US

×